METANI KOESPLUSAN DI YOGYA (2)
Segala Upaya Nguri-uri Sang Legenda
Koran Merapi Selasa, 19 Januari 2010
TERLALU indah dilupakan. Itulah salah satu lagu cukilan syair milik Koes Plus dalam lagunya Andaikan Kau Datang (Koes Plus Volume 2). Kalimat inilah yang pantas disematkan pada karya-karya mereka yang menjadi legenda.Bukan saja mereka yang kini telah berusia sepuh yang masih menikmati keindahan lagu-lagunya, tetapi juga anak muda, yang tidak sedikit diantara mereka baru mendengarkan lagu-lagu Koes, saat band legendaris ini tak lagi menikmati kejayaannya. Sementara anak seusianya yang lain lebih menikmati band-band populer masa kini lewat lagu yang mudah akrab di indera dengar mereka, semacam Tak Gendong milik Mbah Surip, ataupun Lupa-lupa Ingat milik band Kuburan.
Terlalu indah dilupakan. Lagu-lagu Koes, sekalipun tak lagi merajai pasar musik di tanah air. Namun pada kenyatannya masih menjadi konsumsi banyak penikmat sampai sekarang. Tak heran jika pentas Koesplusan pun tetap gayeng dijejali penikmat.
Melegendanya lagu-lagu Koes, juga berimbas pada banyaknya band-band pelestari unjuk gigi. Mulai dari yang dipersonili musisi gaek, yang notabene mengalami massa keemasan Koes, sampai band pelestari yang diawaki musisi-musisi muda dengan gaya dan karakternya masing-masing.
Pada sebuah pentas Koesplusan, band pelestari yang sejak awal mengibarkan bendera orisinal Koes merasa risih saat mengetahui lagu-lagu Koes diorak-arik (pinjam istilah mereka) seenaknya sendiri oleh band pelestari lain dengan berbagai versi, mulai dari yang direggaekan sampai lagu-lagu Koes yang dikoplokan. Genderang perang seakan ditabuh.
Dalam sebuah buku Terlalu Indah Dilupakan (Dalam Catatan Penggemar) yang diterbitkan Jiwa Nusantara Koes Music Fans Club (Mei 2007), dituliskan, Koes Plus tak ayal lagi adalah legenda yang selalu hidup di hati penggemar musik Pop Indonesia. Produktivitasnya, jenis lagunya dan lamanya berkiprah dalam dunia musik kita telah menempatkan Koes Plus sebagai band istimewa yang susah dicari duanya di Indonesia.
Berangkat dari sinilh, band pelestari bermunculan seiring dengan gayengnya Koes Plusan di Yogya. Masing-masing tentu memiliki kekuatan dan karakter sendiri untuk menunjukkan eksistensinya.
Band tanpa karakter yang mampu membedakan dengan yang lain, tentu saja akan dengan mudah tergusur dalam merebut simpati penggemarnya. Ibarat rumah makan yang menyediakan berbagai macam menu pilihan, demikian pula di ranah Koesplusan.
Ketika sebuah band pelestari, sebut saja Hoss Band sudah lebih dulu menyebar virus Koesplusan dengan orisinalitasnya. Band baru tentu saja akan kerepotan mengejar ketertinggalannya, kecuali kalau cukup puas sebagai pengekor. Tak salah jika kemudian muncul band pelestari dengan kelebihannya sendiri-sendiri.
Pro Plus misalnya, cukup berhasil dengan keberaniannya menjadi band pertama yang mengusung lagu-lagu milik Nomo Koeswoyo di pentas Koesplusan. Keberhasilan Music Plus, yang mampu mengolah musikalitas Koes menjadi berjiwa muda dan cukup diterima penonton muda sekarang, adalah upaya mencari jatidiri mereka. Joyo Plus (Yogya) dan Semoga Jaya (Sukoharjo) misalnya lagi, jelas tak ingin mengikuti band-band pelestari lain yang lebih dulu eksis di pentas Koesplusan.
Upaya mencari identitas pun dilakukan kedua band terakhir ini dengan memasukkan unsur koplo kendang di sebagian besar musik Koes garapannya. Semoga Jaya sebelumnya dikenal sebagai band yang kental dengan lagu-lagu Pop Jawa, setelah loncatnya musisi pengendali melodi/kibot, Kombor ke Music Plus dan penyegaran visi, Semoga Jaya kini justru mengusung aliran koplo pada musiknya.
Dihubungi Merapi, pengamat sekaligus pecinta dan seorang kolektor Koes Plus, Wowo Nugroho, menjelaskan, upaya para band pelestari mencari jatidiri lewat garapannya memang patut diapresiasi. “Tak ada salahnya mengaransemen musik Koes sedemikian rupa sepanjang roh Koes Plus-nya tak hilang,” terangnya.
Koes memang kaya musiknya, mereka punya pop Indonesia, pop Barat, Pop Jawa, Keroncong, lagu religi Natal dan Qasidah, lagu anak-anak mapun lagu-lagu bergaya selengekan di beberapa lagu karya cipta Nomo Koeswoyo. Semua enak didengar sesuai dengan karakter musik yang berbeda. Lantas apakah Koes Plus juga memiliki album koplo? Semua akan kita bahas besok pagi. (Aja)
METANI KOESPLUSAN DI YOGYA (1)
Perlu Kerjabareng Biar Gayeng
Koran Merapi Senin, 18 Januari 2010
PERKEMBANGAN Koesplusan di Yogyakarta boleh dibilang menggembirakan. Baik dalam bentuk pertunjukan musik yang diisi para band pelstari Koes Bersaudara/ Koes Plus dan No Koes (selanjutnya disebut Koes) maupun kemunculan kelompok komunitas yang sampai detik ini masih saja ada yang baru.
Melihat fenomena ini tentu saja cukup membanggakan mereka yang sudah memproklamirkan dirinya sebagai Koes Plusmania dan menjadi bagian keluarga pecinta tembang legendaris Koes. Fenomena ini pula yang membuat peta Koesplusan di Yogya dipenuhi dengan pernak-pernik.
Tak dipungkiri, pesatnya Koesplusan di Yogya sangat dipengaruhi oleh banyaknya pentas yang digelar. Dimulai dari Purawisata yang sudah memasuki tahun kelima menggelar Tembang Abadi Koes Plus (TAKP), disusul Warung Java, Waroeng Gendhing, Bu Hartin Resto (Kulonprogo), Planet Pyramid, Cinema XXI, dan banyak tempat yang luput dari pandangan media, begitu hangar bingar mementaskan Koesplusan.
Meski sebagian tempat sekarang tak lagi menggelar Koesplusan, namun geliat pentas ini masih menjadi daya tarik TVRI Stasiun Yogyakarta maupun stasiun televisi lokal Jogja TV di salah satu andalan tayangan mereka.
Belum lagi panggung Koesplusan yang digelar di masing-masing kampung komunitas. Berbagai unsur elemen masyarakat di luar komunitas pun melirik Koesplusan sebagai bentuk pertunjukan sebagaimana dilakukan di beberapa Kecamatan yang ada di Yogyakarta, seperti di Kecamatan Umbulharjo maupun Kecamatan Gedongtengen.Pendek kata Koesplusan di Yogya masih tetap gayeng.
Yang menjadi pertanyaan, sejauh mana kegayengan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saja dibutuhkan kerja ekstra untuk metani bagian perbagian, elemen demi elemen, sehingga ditemukan satu benang merah yang makin menguatkan bahwa Koesplusan di Yogyakarta mampu menjadikan kota ini sebagai kota Koesplusan sebagaimana kerap digembar-gemborkan sebelumnya.
Seorang Koes Plusmania mengaku jenuh dengan tontonan Koesplusan belakangan ini. Meski ia tak memberi alasannya, semakin menjamurnya dan seringnya pentas Koesplusan digelar, dengan materi yang dianggap lamban berkembang, bisa jadi alasannya.
Alasan lainnya, di tengah pertumbuhan kelompok-kelompok komunitas Koesplusmania, yang terjadi bukanlah menyatunya mereka dalam skala kebersamaan. Tetapi justru melahirkan kelompok baru di antara mereka. Peran payung komunitas, Jogja Koes Plus Community (JKPC) lagi-lagi dipertanyakan. Meski sampai saat ini belum terlihat perannya memayungi puluhan komunitas dan ratusan Koesplusmania di Yogya, namun harapan itu masih belum pupus disandarkan pada sosok JKPC.
Pertanyaan kedua, gayengnya Koesplusan di Yogya apakah sudah cukup dengan merebaknya komunitas Koes Plusmania? Tentu saja belum. Koes Plusmania memang bukan hanya seorang penikmat lagu-lagu legenadaris Koes. Band pelestari yang ikut mewarnai kegiatan Koesplusan juga memiliki peran yang tak kalah penting.
Apa saja peran para band pelestari dan sejauh mana mereka mengapresiasikan lagu-lagu Koes pada garapan musiknya? Dan bagaimana menyelesaikan pro kontra tak berujung, orisinal Koes atau garapan? Baca kelanjutan tulisan ini besok pagi. (Aja)
Konser Ekslusif
Konser Ekslusif
Tembang Abad Koes Plus
Mengawali tahun 2010 Calipso Cafe And Music Purawisata (eks THR Jogja) menggelar Konser Ekslusif Tembang Abadi Koes Plus dengan menampilkan 3 Band Pelestari papan atas Jogja dan Solo antara lain :
08 Desember 2010
HOSS BAND - JOGJA
15 Desember 2010
PRO PLUS - JOGJA
22 Desember 2010
NUSANTARA BAND - SOLO
dan sebagai penutup di bulan Januari ini dengan 2 Band Pelesatari dari Jogja Dan Boyolali :
29 Januari 2010
D’MASSTA - JOGJA
KS PLUS - Boyolali
Malam Tahun Baru di Pantai Glagah
Belum punya rencana menyambut Tahun Baru 2010 mau kemana? Bapak Surono dan Butterfly Dance Community Jogjakarta memberikan solusi bagi anda yang belum punya rencana. Pada malam Tahun Baru, 31 Desember 2009 jam 20.00 - 01.00 Bapak Surono dan Butterfly Dance CommunityJogjakarta menyelenggarakan malam Tahun Baru bersama dengan Band Pelestari kenamaan asal Jogja : HOSS BAND dan JOGJA PLUS berlokasi di TPR Glagah kebarat 1 KM (Pendapa Rumah Bpk. Surono).
Solusi yang murah dengan suguhan tembang-tembang Koes Plus berirama original dan Pesta Kembang Api.
Jangan lewatkan moment spesial ini! (Denmaz Saraph)
Malam Tahun Baru di Calipso Cafe
Menyambut Tahun Baru 2010 Calipso Cafe Purawisata bakal menggelar acara Malam Tahun Baru dengan menghadirkan 3 Band Tembang Kenangan kebanggaan Jogjakarata antara lain :
1. LEGEND B (Spesial tembang-tembang dari Panbers- Mercy’s dan D’Lloyd)
2. GUTHO’S ( Spesial di Tembang Indonesia Lama dan Barat Lama)
3. BE HEARTH (Spesial di Tembang Indonesia Lama)
Tiket Masuk :
a. Rp. 25.000,00 Umum
b. Rp.50.000,00 VVIP ( Tiket Masuk + Dinner Mix Barbeque + Fisrt Drink )









